Tejakula adalah sebuah desa di kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, Indonesia.
sumber : https://www.google.com/search?q=desa+tejakula&tbm=isch&tbo=u&source=univ&sa=X&ved=0ahUKEwiw85ObsJXWAhUEoZQKHfLyCyUQsAQIKQ&biw=1280&bih=637#imgrc=0Kqjkd9zKeSErM:
SEJARAH DESA
Untuk
pemberian nama Desa di Indonesia, khususnya di Bali memang
berbeda-beda,ada berdasarkan tempat daerah, ada berdasarkan tokoh
masyarakat yang pertama menetap dan atau berdasarkan nama benda-benda
yang ada disekitarnya.
Mengenai
pemberian nama Desa Tejakula, yang tertulis ditemukan dalam prasasti
dan Undang-Undang Desa ( Sima Desa ). Dan untuk menjamin kebenarannya
kami mengadakan wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat yang tahu
mengenai asal-usul nama desa Tejakula,disamping itu pula kami mengambil
perbandingan dari cerita-cerita rakyat atau Foklore.
Menurut
piagam Raja Janacadhu Warmadewa yang memerintah tahun 975 tarik masehi
yang sekarang tersimpan di Desa Sembiran. Dalam piagam itu ditemukan
nama “ Hiliran “ hal ini dapat dilihat dalam prasasti tersebut pada
lembaran Va, yang berbunyi sebagai berikut :
“ KUNANG
YA ADA DURBALA SANGHYANG PERHYANGAN MEPEDEM, PANCURAN, PASIBWAN,
PRASADA, JALAN RAYA DENGAN LODAN PAHURU PANGNA BANWA DI JULAH , DI
INDRAPURA, BUWUNDALEM, HILIRAN, KEBAYANA, AMIN SIWIDHARUAN, SANGHYANG
PERHYANGAN DITU “
Yang artinya :
“Apabila
ada kerusakan –kerusakan Pura, Kuburan, Pancuran, Permandian , Prasada (
Candi ), Jalan raya yang ada disebelah utara maupun disebelah selatan,
harus Desa Julah, Indrapura, Buwundalem, dan Hiliran, berganti-ganti
memperbaikinya juga mengeluarkan biaya, karena penduduk desa-desa ini
semuanya memuja Pura atau Kahyangan itu ( Goris, dalam Ginasa 1974 :
XVIII )”.
Berdasarkan
uraian tersebut diatas menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “ Hiliran
“ adalah Desa Tejakula sekarang, karena nama tersebut tercantum
disebelah timur nama Buwondalem ( Bondalem ) atau berdasarkan urutan
penyebutan nama-nama Desa yang tercantum yang sangat tua, dimana desa
tersebut sudah ada sejak abad ke 10. Psasasti – Prasasti di Bali yang
berangka tahun abad ke 8 sampai ke 10 kebanyakan menggunakan bahasa bali
kuno, asal katanya adalah hilir dan mendapat akhiran an
menjadi hiliran, hilir dalam bahasa Indonesia juga berarti bagian
sebelah bawah, lawan katanya huluyang artinya bagian sebelah atas. Dalam
Prasasti Raja Jaya Pangus yang berangka tahun 1181 tarik masehi, tidak
ditemukan lagi nama hiliran, tetapi nama lain yakni Paminggir. Untuk
lebih jelasnya lihat Prasasti tersebut lembaran VIII b sampai Xa,
sebagai tersebut dibawah ini
“ ATE
– ATE KARAMA NIBANU BUAH, TAN PAWEHA MANGANA IRIKANG WWANG MANASA,
SALWIRANI KAWWANGANYA KAWATEKANNYA, MAKADI WADWA HAJI RING PAMINGGIR “,
Kira – kira artinya :
Selanjutnya
penduduk Desa Banyubuah dilarang memberikan / menghidangkan makanan
kepada orang-orang dari Desa Manasa, biar orang itu berkasta apa saja
dan golongan apa saja, terutama kepada rakyat dari Desa Pinggiran (
Ginarsa 1974 : XV ).
Dalam
prasasti tersebut diatas memang kurang jelas nama yang dimaksud dengan
Desa Pinggiran. Karena tidak disebutkan urutan Desa – desa lainnya,
Untuk memperkuat data bahwa Desa Tejakula dahulu juga dapat bernama
pinggiran dapat kita lihat dalam Prasasti Kintamani D, yang dikeluarkan
pada jaman Pemerintahan Raja Ekajaya Lencana, berangka tahun 1200 tarik
masehi, yang bunyinya sebagai berikut :
“RING
WINTANG RANU ADAGANG MARE LES, PAMINGGIR, BUHUNDALEM, JULAH PURWASIDHI,
INDRAPURA, BULIHAN, MANASA YAKA SIDHA TAN PAMISINGGIH I SARASANING,
RAJA PRASASTI ANUGRAHANIRA PADUKA SRI MAHA RAJA I KARAMANING CINTAMANI
“,
Kira-kira artinya :
Apabila
ada orang-orang dari Desa Lintang Danu ( Desa yang ada di pinggir Danau
batur , berjualan ke Desa Les, Paminggir, Buhundalem, Julah
Purwasidhi, Indrapura, Bulihan dan Manasa, hal ini telah diputuskan
tidak dipergunakan Undang-undang yang tersebut dalam Prasasti Anugrah
dari Sri Paduka Maharaja, yang ditujukan kepada sekalian penduduk Desa
Kintamani ( Goris, dalam Ginarsa 1974 XV ).
Berdasarkan
uruta nama-nama Desa yang disebut diatas nyatalah bahwa Desa yang
dimaksud Desa Paminggir adalah “ Desa Tejakula “ menurut Prasasti
tersebut yang pertama disebut adalah Desa Les, jadi desa ini letaknya
disebelah timur Desa Tejakula, setelah itu baru disebut Desa Paminggir,
Buhundalem, Julah dan seterusnya, sampai sekarang memang nama-nama Desa
yang disebutkan seperti Buhundalem, Julah dan Les termasuk Kecamatan
Tejakula, terbukti bahwa dulunya Desa Tejakula bernama Paminggir.
Kata Paminggir berasal
dari kata Pinggir yang berarti : tepi, batas atau pinggir. Menurut
pikiran kami kata paminggir hamper sama pengertiannya dengan kata
hiliran, sehingga nama-nama ini silih berganti dipakai, baik
dalam Prasasti maupun dalam Undang-undang Desa.
Kata hiliran kembali
ditemukan dalam undang-undang Desa Tejakula yang selesai ditulis pada
tahun 1932, tetapi nama hiliran dalam Undang-undang Desa tersebut
disingkat menjadi liran saja.( Lihat sima Desa Tejakula ). Perkembangan
selanjutnya beberapa tokoh masyarakat menterjemahkan kata paminggir ke
dalam bahasa sansekerta yaitu : Kula ( bersuku kata panjang ) Kula
juga berarti pinggir atau tepi. Dimuka kata kula ditambahkan kata Teja
yang berarti sinar atau cahaya. Tercantumnya kata Teja dimuka kata kula,
penulis berusaha menemukan dari nama asal-usulnya. Untuk mengetahui
asal-usul kata Teja, kami mengadakan wawancara dengan tokoh-tokoh
masyarakat dan ditambah dengan cerita-cerita rakyat atau Foklore.
Menurut
cerita rakyat bahwa dalam jaman dahulu ada sinar jatuh disebelah timur
desa itu, maka sampai sekarang diabadikan menjadi nama desa, kemungkinan
besar sinar yang kelihatan jatuh ditepi timur desa itu semacam metior
atau bintang-bintang yang berpindah tempat.
Jadi
berdasarkan urutan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa nama Desa
Tejakula dahulu pernah berubah tiga kali sampai sekarang akan tetapi
pengertiannya tidak begitu jauh satu nama dengan nama lainnya.yakni dari
kata Hiliran diganti menjadi Paminggir dan terakhir menjadi Tejakula
sampai sekarang.
Demikian
sejarah Desa Tejakula ini dibut berdasarkan temuan dalam Prasasti dan
Undang-Undang serta cerita-cerita yakyat dan juga temuan dari tokoh
masyarakat yang tahu tentang asal-usul Desa Tejakula, sebagai bukti
sejarah serta pemberian nama Desa Tejakula, untuk dapat dipergunakan
dimana mestinya.
(Dikutif dari Buku Profil Pembangunan Desa)
Profile Desa Tejakula
VISI DAN MISI
VISI :
Menuju masyrakat sehat, cerdas dan sejahtera
MISI:
Mewujudkan Desa Tejakula yang sehat, melalui Pembangunan Sanitasi Lingkungan dan sarana pelayanan kesehatan berkaitan
dengan kebijakan Pemerintah Indonesia di bidang kesehatan yaitu
MENUJU INDONESIA SEHAT 2010 yaitu meningkatkan kesadaran , kemauan
dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat
kesehatan yang optimal.
Mewujudkan
Desa Tejakula yang Cerdas, melalui Pembangunan sarana prasarana
Penunjang Pendidikan agar tercipta generasi muda yang mampu
bersaing dalam Peningkatan Mutu Pendidikan dan Keterampilan sehingga
mampu menciptakan lapangan kerja dan memiliki budi pekerti.
Mewujudkan
Desa Tejakula yang Sejahtera , melalui pembangunan infrastuktur
dan perbaikan pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian fungsi
lingkungan hidup , revitalisasi pertanian dan pemberdayaan kelompok –
kelompok usaha produktif .
LUAS WILAYAH DESA
Luas Wilayah desa Tejakula : 1396 Ha.
Pemanfaatan Wilayah
Sawah dan Ladang ; 106,05 Ha
Bangunan Umum : 9,69 Ha
Pemukiman / perumahan ; 97,90 Ha
Kuburan ; 3 Ha
Jalan : 21,02 Ha
Pertokoan / Perdagangan : 4,65 Ha
Pasar ; 0,30 Ha
Pekarangan : : 11,00 Ha
Tegalan : 382,45 Ha
Perkebunan : 40,0 Ha
BATAS-BATAS DESA
Letak Desa
Desa
Tejakula adalah salah satu desa yang berada di Wilayah Kecamatan
Tejakula, termasuk ibukota kecamatan yang terletak pada ketinggian 0 –
300 meter dari permukaan laut, dengan suhu udara rata-rata 280 C – 320 dan termasuk dataran rendah
Batas-batas desa
Sebelah Utara : Laut Bali
Sebelah Selatan : Kec. Kintamani Kab. Bangli
Sebelah Barat : Desa Bondalem
Sebelah Timur : Tukad Les desa Les
JARAK PEMERINTAHAN DESA KE
Ke Ibu Kota Kecamatan Tejakula : 0 Km
Ke Ibu Kota Kabupaten Buleleng: 33 Km
Ke Ibu Kota Propinsi Bali : 114 Km
JUMLAH DUSUN DAN NAMA-NAMA DUSUN
Desa Tejakula terdiri dari 10 dusun :
Banjar Dinas Suci
Banjar Dinas Kawanan
Banjar Dinas Tengah
Banjar Dinas Siladarma
Banjar Dinas Kajanan
Banjar Dinas Antapura
Banjar Dinas Tegalsumaga
Banjar Dinas Kanginan
Banjar Dinas Kelodan
Banjar Dinas Sukadarma
JUMLAH PENDUDUK
Jumlah penduduk desa Tejakula :
Laki-laki : 6.023 Jiwa
Perempuan : 6.098 Jiwa +
Jumlah : 12.121 Jiwa
Kepala Keluarga (KK) : 3.437 KK
MATA PENCAHARIAN PENDUDUK
Mata pencaharian penduduk desa Tejakula secara umum adalah Pertanian / Perkebuna, Buruh Tani , Peternakan dan Nelayan
ORGANISASI SUBAK DAN TRUNA TRUNI
Lembaga Subak
Subak Sri Dharma Tirta Banjar Dinas Siladarma
Subak Siungan Banjar Dinas Antapura
Subak Amerta Boga Banjar Dinas Suci
Subak Kebon Banjar Dinas Antapura
Subak Tirta Anugrah Banjar dinas Suci
Sekeha Truna Truni
STT. Teja Mekar
Karang Taruna Kumara Sentana Graha
SARANA PENDIDIKAN
TK Negeri Pembina
SD N 1 Tejakula
SD N 2 Tejakula
SD N 3 Tejakula
SD N 4 Tejakula
SD N 5 Tejakula
SD N 6 Tejakula
SD N 7 Tejakula
SD N 8 Tejakula
SMP N 1 Tejakula
SMP Udayana Tejakula
SMA N 1 Tejakula
SMA Udayana Tejakula
SARANA KESEHATAN
Puskesmas : Puskesmas I Tejakula
Posyandu
Posyandu Nusa Indah Banjar Dinas Suci
Posyandu Jambu Banjar Dinas Suci
Posyandu Jempiring Banjar Dinas Kawanan
Posyandu Angsoka Banjar Dinas Tengah
Posyandu Anggrek Banjar Dinas Siladarma
Posyandu Kamboja Banjar Dinas Kajanan
Posyanduu Mawar I Banjar Dinas Antapura
Posyandu Mawar II Banjar Dinas Antapura
Posyandu Kemuning Banjar Dinas Tegalsumaga
Posyandu Melati Banjar Dinas Kanginan
Posyandu Cempaka I Banjar Dinas Kelodan
Posyandu Cempaka II Banjar Dinas Kelodan
Posyandu Dahlia I Banjar Dinas Sukadarma
Posyandu Dahlia II Banjar Dinas Sukadarma
POTENSI DESA YANG DIKEMBANGKAN
Pariwisata Bahari (Camplung)
Home Industri pembuatan Jaja Gina, Dodol, Pembuatan minyak Kelapa
Kerajinan tangan ingka, Emas dan Perak
SARANA DAN PRASARANA MEDIA INFORMASI
Jumlah sarana computer pada kantor Desa : 4 unit (Pentium III, IV)
Jumlah Penduduk yang mempunyai TV dan Radio : 2.405 Orang
Jumlah Penduduk yang berlangganan Koran : 40 Orang
Jumlah penduduk yang mempunyai : telepon / HP : 30 telepon, 3060 Hp
Jumlah penduduk yang mempunyai computer : 214 orang
NAMA PURA BESERTA HARI PIODALANNYA DI DESA PAKRAMAN TEJAKULA
Pura Kahyangan Tiga dan Pura Dang Kahyangan :
Pura Puseh : Dangsil setiap Purnama Kelima (10 tahun sekali tepatnya
setiap angka tahun Masehi ber-angka 8. Jadi Dangsil yang akan datang
jatuh pada Purnama Kelima tahun 2018), Ngenemang setiap Purnama Kenem (5
tahun sekali)
Pura Desa : Dangsil setiap Purnama Kelima (10 tahun sekali,
dilaksanakan setelah Upacara Dangsil di Pura Puseh), Ngenemang setiap
Purnama kenem (5 tahun sekali), setiap tahun nuju Purnama Kedasa Melasti
ke Pura Ponjok Batu, setiap Panglong Sasih Kedasa (ngebekin Banyu
Cokor) – Pura Batur, setiap panglong Sasih Kalima (ngebekin Banyu Cokor)
– Sukawana.
Pura Dalem : Dangsil setiap Purnama Kelima setelah Upacara Dangsil di Pura Dangin Carik, Ngenemang setiap Purnama Kenam.
Pura Dangin Carik : Dangsil setiap Purnama Kalima (10 tahun sekali
setelah Upcara Dangsil di Pura Desa), Ngenemang setiap Purnama Kenem (10
tahun sekali)
Pura Segara : Ngenemang setiap Purnama Kenem (10 tahun sekali)
setelah di Pura Desa, Ngodalin Alit setiap Anggara Kasih bulan Oktober.
Pura Beji : Labuh Gentuh setiap Purnama Kelima (10 tahun sekali) setelah Dangsil di Pura Dalem
Pura Ratu Gede Sambangan : Anggara Kasih Perangbakat
Tilem Kenem : Caru Nangluk Merana di Pura Desa (Meru Medulu Klod)
Tilem Kapitu : Caru Sasih di Pura Desa
Tilem Kawulu : Caru Sasih di Pura Dalem
Tilem Kesanga : Caru Sepen di Pura Desa
Dangsil
Upacara Dangsil yang dilksanakan setiap Purnama Kalima, dimulai dari
Pura Puseh, Pura Desa, Pura Dangin Carik dan Pura Dalem ditutup dengan
Labuh Gentuh di Pura Beji. Rangkaian Upacara ini dari mulainya di Pura
Puseh sampai dengan Labuh Gentuh di Pura Beji berlangsung sekitar 10
tahun. Selain itu ada pula Upacara Ngenemang yang dilaksanakan setiap
Purnama Kenem (5 tahun sekali) kecuali di Pura Dangin Carik Upcara
Ngenemang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali.
Pura Lain yang memiliki hubungan Historis dengan Desa Tejakula :
Pura Utus (Sukawana – Bangli)) : Purnama Ketiga
Pura Puncak Penulisan (Penulisan – Bangli) : Purnama Kapat (setiap 10 tahun sekali Desa Tejakula ngaturang atos)
Pura Desa Sukawana (Sukawana – Bangli) : Purnama Kalima.
sumber : Desa Pakraman Tejakula (sumber : https://aamztronx.wordpress.com/desa-tejakula/nama-pura-beserta-hari-piodalannya-di-desa-pakraman-tejakula/)
Kebudayaan Desa Tejakula
Wayang Wong Desa Tejakula
Keberadaan Kesenian Wayang Wong Desa Tejakula
Sebagai seni pertunjukkan yang telanjur dianggap klasik, tradisional,
magis dan sakral, wayang wong seakan-akan tak bisa dimodifikasi menjadi
seni modern yang lebih cair dan menghibur. Padahal, dalam sejarah
perkembangan seni pertunjukan di Bali, banyak seni tradisi yang
hampir-hampir mati bisa bangkit kembali ketika dikonsep dengan
menggunakan pola pikir lebih sekuler dan menggunakan peralatan modern.
Salah satu contoh bisa disebut wayang kulit Cenk Blonk yang menggunakan
alat pencahayaan modern dan pola pembabakan cerita yang lebih dinamis.
Kelompok wayang wong dari Desa Tejakula yang memainkan cerita
"Kumbakarna Karebut" dalam ajang Festival Topeng Internasional di
panggung terbuka Pelabuhan Buleleng, Kamis (1/12) malam, sesungguhnya
berada di tengah suasana modern. Tata panggung, tata pencahayaan dan
tata suara yang meskipun diatur dengan agak amburadul namun sudah cukup
memberi kesan bahwa pertunjukkan itu berada di ruang modern, bukan ruang
magis apalagi sakral. Event festival yang digelar International Mask
Art and Culture Organization (IMACO) adalah event modern yang dirancang
orang-orang berpikiran modern. Penonton yang berjubel di areal Pelabuhan
Buleleng itu pun sepertinya mempersiapkan diri untuk menonton sebuah
seni pertunjukan yang setidaknya bisa membuat hati mereka terhibur.
Namun yang mereka dapatkan di atas panggung sepertinya sebuah tontonan
yang canggung dan kikuk.
Sebagai seni klasik, para pemain wayang wong dari seniman-seniman
alam di Tejakula itu sudah menunjukkan permainan yang bisa disebut
sempurna. Terutama pemain yang memerankan tokoh-tokoh dari pasukan kera.
Gerak yang mereka tampilkan adalah gerakan khas wayang wong yang
tercipta dari konsep-konsep seniman alam masa lalu. Karakter-karakter
penokohannya juga termasuk kuat justru karena pemainnya tidak mencoba
untuk menonjolkan gerak tari yang berlebihan.
Namun seluruh rangkaian pertunjukan sepertinya terpaku
dalam ruang masa lalu, terkesan statis dan berat. Tanpa ada upaya untuk
menarik sedikit atau beberapa bagian saja ke ruang yang lebih
kontekstual. Punakawan semacam Delem, Sangut, Tualen dan Merdah, meski
tetap harus mempertahankan karakter kepunakawanannya, namun sesungguhnya
bisa dimainkan secara lebih terbuka bahkan bisa saja sesekali terlepas
dari alur cerita. Tokoh lain, seperti Anoman dan sejumlah raksasa anak
buah Rahwana juga bisa diberi peran lebih bebas untuk mengangkat nuansa
pertunjukan ke wilayah yang lebih akrab dengan penonton.
Upaya itu memang tidak mudah di tengah masalah klasik
sulitnya menumbuhkan tunas generasi seniman wayang wong di Tejakula.
Tokoh punakawan semacam Merdah yang sudah saatnya dimainkan oleh penari
muda yang energik dan penuh daya improvisasi, kini justru masih
dimainkan seniman sepuh yang usianya di atas 60 tahun. Sehingga Merdah
tak bisa lagi mengeluarkan suara melengking dengan celetukan yang
menggigit.
Sesepuh wayang wong Tejakula Ketut Mulia, mengakui
betapa sulitnya mendapatkan generasi baru untuk meneruskan sekaligus
menghidupkan seni klasik tersebut di Tejakula. Generasi seakan takut
untuk belajar menari wayang wong. Mereka mungkin bisa dengan mudah
belajar menari, namun tak mudah untuk belajar sastra dan bahasa Kawi.
Pasalnya, dialog dalam wayang wong Tejakula semuanya disuarakan secara
langsung oleh pemainnya tanpa menggunakan dalang. Dalang hanya bernyanyi
saat mengantar cerita di bagian awal atau sesekali mengeluarkan
sesendon di tengah cerita. Artinya, dengan begitu, setidaknya setiap
pemain wayang wong menguasai ilmu mendalang. Dan, itulah yang membuat
wayang wong menjadi seni pertunjukan yang agung, komplit, dan lengkap,
apalagi bisa dimainkan dengan sempurna.
Tapi, tanpa regenerasi, keagungan wayang wong tentu saja
tak bisa dipertahankan. Cara mempertahankan adalah membuat generasi
tertarik untuk main wayang wong. Untuk membuat generasi tertarik tentu
wayang wong lebih bisa dicairkan agar bisa masuk ke dunia generasi muda
yang berada pada wilayah modern. Sastra adalah satu kekuatan dalam
wayang wong, juga sebagian besar seni klasik lain. Tapi, jika generasi
sulit belajar sastra, maka sastra bisa saja diturunkan kadarnya dalam
pengadegan tokoh-tokoh tertentu. Sastra tak harus dilapalkan dalam
Bahasa Kawi tapi bisa dicairkan ke dalam bahasa percakapan sehari-hari.
Percayalah, bahasa yang biasa-biasa saja jika bahasa itu diberi rasa dan
nyawa, bahasa biasa itu juga bisa memancarkan sihir pada penonton.
Bukankah pada awalnya Bahasa Kawi juga bahasa biasa?
Jika wayang wong ditampilkan lebih cair dan lebih
sekuler, tentu saja ia masih bisa dianggap wayang wong. Soal apakah ia
masih bisa dianggap sebagai seni klasik dan sakral, itu bisa
dipertanyakan kemudian. Di Tejakula, warga pendukung wayang wong
sebenarnya sejak dulu sudah punya upaya sadar dalam membedakan ruang
sakral dan bukan sakral. Ini dibuktikan dengan dibuatkannya topeng
duplikat dari wayang wong yang disungsung di pura desa. Topeng wayang
duplikat inilah yang dimainkan di ruang-ruang yang lebih sukuler. Bahkan
dalam pementasan di tempat-tempat tertentu, kelompok ini biasa memotong
sejumlah adegan dan mengurangi jumlah pemain karena masalah waktu.
Artinya, sejak awal sudah diciptakan ruang untuk bermain dan ruang untuk
khusyuk. Maka, dalam ruang bermainlah segala imajinasi, kreasi,
improvisasi, bila perlu revolusi, bisa dimainkan.
Keberadaan gamelan Gong Kebyar di Tejakula,
merupakan salah satu asset dari perkembangan Gong Kebyar yang tersebar
luas di Bali. Salah satu bentuk medium seni tabuh, Gong Kebyar di
Tejakula juga di manfaatkan selain sebagai sarana kebutuhan estetis
secara musikal, juga sebagai sarana lainnya seperti untuk pengiring
upacara atau ritual, sarana sosial, dan sarana ekonomi. dari fungsi yang
ada sekaligus dimaknai sebagai medium estetis yang bernilai ritual,
sosial, dan ekonomi. Sejarah singkat keberadaan gamelan Gong Kebyar di Tejakula,menurut
penuturan gamelan Gong Kebyar di desa Tejakula pada mulanya warga Dadia
Pinatih Desa Tejakula memiliki seperangkat barungan gamelan Gong Kebyar
gaya Bali utara. Seperangkat gamelan tersebut, dipinjamkan kepada desa
Tejakula. Pada saat itu kebetulan pemimpin desa atau bapak kepala
desanya dari warga pinatih yaitu Bapak I Ketut Arta. Sebelum bapak I
Ketut Arta memimpin desa Tejakula, desa tersebut pernah juga dipimpin
oleh warga Pinatih. Perkembangan kesenian di desa Tejakula pada saat itu sangat maju
khususnya kesenian Kebyar seperti ada beberapa tarian diantaranya tari
Truna Jaya, Margapati, Panji Semirang, Tenun, Wiranata, Oleg
Tamulilingan, Cendrawasih, dan tari Kupu-kupu. Adapun mengenai
tabuh-tabuhan seperti : Hujan Mas, Bande Sura Kekebyaran, dan Tabuh
Galang Kangin kekebyaran. Kesemuanya jenis kesenian tersebut dapat
disajikan atau diiringi oleh barungan gamelan gong kebyar milik warga
penatih yang dipinjamkan bapak kepala desa Tejakula. Sebelum dan sesudah gerakan G30 S/PKI pada tahu 1965, seni-seni tersebut khususnya seni tari dan seni karawitan
(tabuh) sering pentas mengisi acara permohonan internal desa dan
eksternal desa. Internal desa mengisi permohonan masyarakat desa
Tejakula dalam kegiatan upacara Panca Yadnya seperti : Dewa Yadnya,
Manusa Yadnya, Bhuta Yadnya, Rsi Yadnya, dan Pitra Yadnya. Untuk
ekternal mengisi acara di Istana Negara Tampak Siring dalam rangka
kunjungan bapak presiden republik Indonesia pada saat itu bapak Soekarno
adalah sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama. sebelum pentas
di Tampak Siring (istana), pentas juga di Patal Tohpati, Balitek,
Kapal-kapal besar di pelabuhan Buleleng, HUT Kota Singaraja dan dalam
rangka 17 Agustus di alun-alun atas dan alun bawah di kota Singaraja. Perkembangan seni selanjutnya di desa Tejakula, adanya rekaman dari
Yama Sura dari Jepang untuk kepentingan kampus yang sudah barang tentu
dikasi dana. Selanjutnya kesenian Gong Kebyar dan kesenian wayang wong
pada tanggal 5 sampai dengan 13 September 1993, diajak mengikuti
pementasan di Jepang Tokyo oleh Bapak Sardono pada tanggal 16 Mei 1995
dengan materi yang sama pergi ke negara Swedia yang diprakasai oleh
bapak Sida Karya alias UlGad dari Swedia. Kepergian rombangan kesenian
Tejakula ke negara tersebut dan termasuk rekaman yang dilakukan oleh
Yama Sura dari Jepang memakai barungan gamelan gong kebyar tersebut.
Para seniman yang mengikuti kegiatan kesenian tersebut tidak sepenuhnya
mendapatkan honor (upah) karena akan ada rencana untuk membeli
seperangkat barungan gamelan gong kebyar. Atas dasar pertimbangan para seniman yang di prakarsai oleh Bapak
Nyoman Tusan dan Pande Gede Mustika, sehingga sisa-sisa dana dari ke
tiga kegiatan tersebut mencukupi untuk membeli seperangkat barungan
gamelan gong kebyar. Gamelan Gong Kebyar yang ada sekarang itu dibeli
dengan harga Rp.15.000.000,00 (limas belas juta rupiah) di Pande
gamelan Kubu Jati yaitu Bapak Gede Artha. semula gamelan tersebut tanpa
diukir, selanjutnya diukir oleh masyarakat Tejakula dari keluarganya
Putu Inten. Gamelan tersebut dibeli pada tahun 1996 Setelah memiliki
gamelan baru, gamelan gong kebyar milik warga pinatih yang dipergunakan
oleh desa dikembalikan,sehingga gamelan gong kebyar yang ada sekarang di
desa administrasi Tejakula berkat jerih payah seniman. Demikian sejarah singkat keberadaan barungan gamelan gong kebyar yang
ada sekarang di Desa Tejakula,sehingga aktifitas seniman khususnya
seniman kebyar berjalan sesuai dengan harapan. Bentuk Fisik Bentuk fisik gamelan Gong Kebyar yang ada di desa
Tejakula merupakan barungan gamelan yang terbuat dari kerawang dengan
pelawah dari kayu disusun sedemikian rupa sehingga berbentuk sebuah
instrument-instrumen yang kebanyakan berbentuk bilah. Unsur budaya Bali
tercemin pada penggunaan instrument dari perangkat gamelan Bali dan
busana yang digunakan oleh para penabuh (juru gamel). Budaya local
tampak pada penggunaan aspek tradisi Bali seperti bentuk ukiran/ornament
pada pelawahnya, menggunakan laras pelog, sesaji, dan para penabuhnya
didominasi dengan memakai kostum penabuh tradisi budaya Bali. Bentuk Instrumen Gamelan Gong Kebyar di desa Tejakula sudah barang tentu mempunyai
suatu kekhasan sendiri. Barungan gamelan Gong Kebyar Tejakula, bentuk
instrumennya ada yang berbentuk bilah dan ada yang berbentuk pancon
(moncol). Menurut Brata, instrument yang berbentuk bilah juga dapat
dibagi menjadi dua yakni bilah yang berbentuk dengan istilah; metundun
klipes, metundun sambuk, setengah penyalin, dan bulig. Bentuk Repertoar Bentuk adalah susunan dari suatu bagian atau
struktur yang merupakan suati sehingga membentuk atau mewujudkan suatu
bentuk nyata. Bentuk repertoar ditentukan oleh jumlah bagian, struktur,
dan permainan dari suatu instrument.Dalam repertoar gending-gending gong
kebyar di desa Tejakula terdapat beberapa bentuk repertoar gending
yaitu bentuk repertoar gending gilak (gegilakan), tabuh telu, tabuh pat,
tabuh nem, dan tabuh-tabuh untuk iringan tari-tarian lepas.
Masing-masing bentuk repertoar gending, merupakan rangkaian dari
bagian-bagian gending yang masing-masing bentuk mempunyai urutan sajian
bagaian gending yang berbeda-beda. Adapun urutan dari bagian-bagian bentuk repertoar gending dari masing-masing bentuk repertoar adalah sebagai berikut : 1. Bentuk repertoar gending gilak (gegilakan) terdiri dari bagian gending-gending kawitan dan pengawak. 2. Bentuk repertoar gending tabuh pisan terdiri dari bagian gending kawitan, pengawak, ngisep ngiwang, pengisep, dan pengecet. 3. Bentuk repertoar gending tabuh telu, terdiri dari bagian gending kawitan dan pengawak. 4. Bentuk repertoar gending tabuh pat, tabuh nem, dan tabuh kutus
mempunyai bagian gending yang sama yaitu kawitan (pengawit), pengawak
pengisep (pengaras), dan pengecet. Pada bagian gending pengecet terdapat
sub-sub bagian gending yang urutan sajiannya adalah kawitan,
pemalpal, ngembat terompong, pemalpal tabuh telu, pengawak tabuh telu.
Alternatif yang lain dari susunan sajian sub bagian gending dalam
pengecet adalah kawitan, pemalpal, ngembat trompong, dan gilak atau
gegilakan. 5. Gending-gending untuk iringan tari-tarian lepas pada umumnya
dikomposisikan sedemikian rupa disesuaikan dengan bentuk tari yang
diiring (sumber : https://aamztronx.wordpress.com/adat-budaya/sejarah-gong-kebyar-desa-tejakula/)
MAKANAN KHAS DESA TEJAKULA
1. Dodol Khas Tejakula
Lokasi : Desa Tejakula, Buleleng, dan daerah lainnya (pasar tradisional).
Kisaran Harga : Rp8.000/ikat.
Derkripsi :
Makanan yang satu ini (dodol) adalah salah satu jajanan
tradisional Bali yang sebenarnya rasanya enak, tetapi keberadaannya kini
sudah mulai jarang diminati, terutama di daerah perkotaan. Hal ini
tidak lepas dari pengaruh masuknya berbagai jajanan "kota" yang notabene
instant dan mudah didapat, sehingga secara mudah merubah pola konsumsi
kita untuk beralih ke mereka (jajanan kota). Jika ditanya dimana,
jajanan ini mudah ditemui di bali jika sudah tiba musim upacara agama,
namun jika dalam keseharian memang sedikit diproduksi karena
permintaannya tidak banyak, tetapi bukan berarti tidak ada lho, karena
di pasar tradisional atau sekarang di supermarket dan minimarket sudah
mulai tersedia.
Salah satu produsen yang recomended yaitu desa Tejakula. Salah
satu produsen disana yang pernah kami temui kami perhatikan mulai dari
proses awal produksinya, dan memang terpercaya untuk jenis makanan
seperti ini. Produksinya dilakukan secara berkala namun dengan tingkat
kapasitas pruduksi yang disesuaikan dengan permintaan pasar, saat musim
upacara agama tingkat produksinya ditambah, dan jika tidak pada musimnya
maka produksinya dikurangi. Mengapa produksinya tidak dihentikan?
Karena mereka selalu mendapat pesanan entah itu dari masyarakat lokal,
atau bahkan dari luar negeri, seperti agen-agen penyalur oleh-oleh bali
atau secara langsung dipesan oleh para turis yang sedang berkunjung. Ini
membuktikan kualitas rasa makanan yang satu ini memang tidak kalah dari
makanan-makanan instant yang tersedia di supermarket. Selain sehat,
dengan rasanya yang gurih, manisnya alami, serta lembut dilidah membuat
makanan ini patut untuk tetap kita konsumsi.
Mari kita kembali ke pola konsumsi lama, kita cintai dan kita
kembangkan makanan khas daerah kita, selain enak juga sehat bagi tubuh
kita, turis aja suka, kita???
Nama makanan Blayag memang sudah terkenal di Buleleng dan hanya ada di wilayah Buleleng saja. Blayag merupakan makanan (sumber gambar blayag : https://www.google.com/search?q=BLAYAG+KHAS+TEJAKULA&tbm=isch&tbo=u&source=univ&sa=X&ved=0ahUKEwj-lomWuZXWAhUHyrwKHV8MBsEQsAQIRg&biw=1280&bih=637#imgrc=HKFHYoT9Mcjv9M:)tradisonal
yang sangat murah. Meskipun murah makanan ini sangat enak dan nikmat
karena disajikan dengan daun pisang.1 porsi bisa Anda dapatkan dengan
harga 5000- 10.000 Rupiah. Untuk menikmati makanan ini, Anda cukup
datang di seputaran kota Singaraja atau dekat-dekat pasar Buleleng.
Namun saat ini sudah banyak yang menjual karena pimantnya cukup banyak.
Makanan yang dibuat sederhana dengan bahan dan rempah alami tanpa msg.
Secara kasat mata Blayag sama dengan tahu petis namun bumbunya yang
berbeda. Blayag dibuat dari ketupat yang dipotong-potong kemudian diisi
dengan bumbu rambanan. Setelah ditu diatasnya ditaburi saur atau parutan
kelapa yang telah dimasak dan diisi kacang yang telah digoreng. Blayag
juga dilengkapi dengan berbagai sayur. Agar lebih enak lagi penjual
biasanya membuat ketupat dengan daun pisang dan bukan daun kelapa atau
plastik. Agar menghasilkan aroma yang sedap, ketupat dimasak dengan kayu
bakar.
Namanya bubur Cina, sangat unik ya. Yang namanya bubur sama saja dengan
yang lainnya. Namun yang satu ini berbeda. Bubur dibuat dengan beras
kemudian diisi campuran mie. Bubur ini kemudian diisi bumbu ambil
dimasak. Bumbunya sederhana untuk menambah cita rasa bubur. Agar lebih
nikmati bubur diisi dengan sayur. Sayur bisa diisi dengan kcang panjang
dan kecambah yang direbus. Bumbu sayur diisi dengan bumbu kacang tanah.
Sangat lengkap bila ditambah dengan krupuk. Wah pasti lezat sekali.
Mengguh Kedongkol adalah salah satu makanan khas Tejakula sama dengan
bubur Cina. Mengguh Kedongkol juga berupa bubur beras. Kalau Bubur Cina
dilengkapi dengan mie, Mengguh Kedongkol dilengkapi dengan ubi jalar
yang telah dipotong-potong kecil. Bumbunya sangat sederhana Cuma
penyajiannya dilengkapi dengan sayur kacang panjang, kecambah dan
kedongkol dlumuri bumbu kacang, daging ayam yang direbus dan bisa juga
ditambah dengan bawang goreng dan krupuk.