This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 08 September 2017

DESA TEJAKULA


Tejakula adalah sebuah desa di kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, Indonesia.

Image result for desa tejakula 
sumber :  https://www.google.com/search?q=desa+tejakula&tbm=isch&tbo=u&source=univ&sa=X&ved=0ahUKEwiw85ObsJXWAhUEoZQKHfLyCyUQsAQIKQ&biw=1280&bih=637#imgrc=0Kqjkd9zKeSErM:



 

SEJARAH DESA

Untuk pemberian nama Desa di Indonesia, khususnya di Bali memang berbeda-beda,ada berdasarkan tempat daerah, ada berdasarkan tokoh masyarakat yang pertama menetap dan atau berdasarkan nama benda-benda yang ada disekitarnya.
Mengenai pemberian nama Desa Tejakula, yang tertulis ditemukan dalam prasasti dan Undang-Undang Desa ( Sima Desa ). Dan untuk menjamin kebenarannya kami mengadakan wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat yang tahu mengenai asal-usul nama desa Tejakula,disamping itu pula kami mengambil perbandingan dari cerita-cerita rakyat atau Foklore.

Menurut piagam Raja Janacadhu Warmadewa yang memerintah tahun 975 tarik masehi yang sekarang tersimpan di Desa Sembiran. Dalam piagam itu ditemukan nama “ Hiliran “ hal ini dapat dilihat dalam prasasti tersebut pada lembaran Va, yang berbunyi sebagai berikut :
“ KUNANG YA ADA DURBALA SANGHYANG PERHYANGAN MEPEDEM, PANCURAN, PASIBWAN, PRASADA, JALAN RAYA DENGAN LODAN PAHURU PANGNA BANWA DI  JULAH , DI INDRAPURA, BUWUNDALEM, HILIRAN, KEBAYANA, AMIN SIWIDHARUAN, SANGHYANG PERHYANGAN DITU “
Yang artinya :
Apabila ada kerusakan –kerusakan Pura, Kuburan, Pancuran, Permandian , Prasada ( Candi ), Jalan raya yang ada disebelah utara maupun disebelah selatan, harus Desa Julah, Indrapura, Buwundalem, dan Hiliran, berganti-ganti memperbaikinya juga mengeluarkan biaya, karena penduduk desa-desa ini semuanya memuja Pura atau Kahyangan itu ( Goris, dalam Ginasa 1974 : XVIII )”.

Berdasarkan uraian tersebut diatas menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “ Hiliran “ adalah Desa Tejakula sekarang, karena nama tersebut tercantum  disebelah timur nama Buwondalem ( Bondalem ) atau berdasarkan urutan penyebutan nama-nama Desa yang tercantum yang sangat tua, dimana desa tersebut sudah ada sejak abad ke 10. Psasasti – Prasasti di Bali yang berangka tahun abad ke 8 sampai ke 10 kebanyakan menggunakan bahasa bali kuno, asal katanya adalah hilir dan mendapat akhiran an menjadi hiliran, hilir dalam bahasa Indonesia juga berarti bagian sebelah bawah, lawan katanya huluyang artinya bagian sebelah atas. Dalam Prasasti Raja Jaya Pangus yang berangka tahun 1181 tarik masehi, tidak ditemukan lagi nama hiliran, tetapi nama lain yakni Paminggir. Untuk lebih jelasnya lihat Prasasti tersebut lembaran VIII b sampai Xa, sebagai tersebut dibawah ini
“ ATE – ATE KARAMA NIBANU BUAH, TAN PAWEHA MANGANA IRIKANG WWANG MANASA, SALWIRANI KAWWANGANYA KAWATEKANNYA, MAKADI WADWA HAJI RING PAMINGGIR “,
Kira – kira artinya :
Selanjutnya penduduk Desa Banyubuah dilarang memberikan / menghidangkan makanan kepada orang-orang dari Desa Manasa, biar orang itu berkasta apa saja dan golongan apa saja, terutama kepada rakyat dari Desa Pinggiran ( Ginarsa  1974 : XV ).

Dalam prasasti tersebut diatas memang kurang jelas nama yang dimaksud dengan Desa Pinggiran. Karena tidak disebutkan urutan Desa – desa lainnya, Untuk memperkuat data bahwa Desa Tejakula dahulu juga dapat bernama pinggiran dapat kita lihat dalam Prasasti Kintamani D, yang dikeluarkan pada jaman Pemerintahan Raja Ekajaya Lencana, berangka tahun 1200 tarik masehi, yang bunyinya sebagai berikut :
RING WINTANG RANU ADAGANG MARE LES, PAMINGGIR, BUHUNDALEM, JULAH PURWASIDHI, INDRAPURA, BULIHAN, MANASA YAKA SIDHA TAN PAMISINGGIH I SARASANING, RAJA PRASASTI ANUGRAHANIRA PADUKA SRI MAHA RAJA  I KARAMANING CINTAMANI “,
Kira-kira artinya :
Apabila ada orang-orang dari Desa Lintang Danu ( Desa yang ada di pinggir Danau batur , berjualan ke Desa  Les, Paminggir, Buhundalem, Julah Purwasidhi, Indrapura, Bulihan dan Manasa, hal ini telah diputuskan tidak dipergunakan Undang-undang yang tersebut dalam Prasasti Anugrah dari Sri Paduka Maharaja, yang ditujukan kepada sekalian penduduk Desa Kintamani ( Goris, dalam Ginarsa 1974 XV ).
Berdasarkan uruta nama-nama Desa yang disebut diatas nyatalah bahwa Desa yang dimaksud Desa Paminggir adalah “ Desa Tejakula “ menurut Prasasti tersebut yang pertama disebut adalah Desa Les, jadi desa ini letaknya disebelah timur Desa Tejakula, setelah itu baru disebut Desa Paminggir, Buhundalem, Julah dan seterusnya, sampai sekarang memang nama-nama Desa yang disebutkan seperti Buhundalem, Julah dan Les termasuk Kecamatan Tejakula, terbukti bahwa dulunya Desa Tejakula bernama Paminggir.
Kata Paminggir berasal dari kata Pinggir yang berarti : tepi, batas atau pinggir. Menurut pikiran kami kata paminggir hamper sama pengertiannya dengan kata hiliran, sehingga nama-nama ini silih berganti dipakai, baik dalam Prasasti maupun dalam Undang-undang Desa.
Kata hiliran kembali ditemukan dalam undang-undang Desa Tejakula yang selesai ditulis pada tahun 1932, tetapi nama hiliran dalam Undang-undang Desa tersebut disingkat menjadi liran saja.( Lihat sima Desa Tejakula ). Perkembangan selanjutnya beberapa tokoh masyarakat menterjemahkan kata paminggir ke dalam bahasa sansekerta yaitu : Kula     ( bersuku kata panjang ) Kula juga berarti pinggir atau tepi. Dimuka kata kula ditambahkan kata Teja yang berarti sinar atau cahaya. Tercantumnya kata Teja dimuka kata kula, penulis berusaha menemukan dari nama asal-usulnya. Untuk mengetahui asal-usul kata Teja, kami mengadakan wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat dan ditambah dengan cerita-cerita rakyat atau Foklore.
Menurut cerita rakyat bahwa dalam jaman dahulu ada sinar jatuh disebelah timur desa itu, maka sampai sekarang diabadikan menjadi nama desa, kemungkinan besar sinar yang kelihatan jatuh ditepi timur desa itu semacam metior atau bintang-bintang yang berpindah tempat.
Jadi berdasarkan urutan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa nama Desa Tejakula dahulu pernah berubah tiga kali sampai sekarang akan tetapi pengertiannya tidak begitu jauh satu nama dengan nama lainnya.yakni dari kata Hiliran diganti menjadi Paminggir dan terakhir menjadi Tejakula sampai sekarang.
Demikian sejarah Desa Tejakula ini dibut berdasarkan temuan dalam Prasasti dan Undang-Undang serta cerita-cerita yakyat dan juga temuan dari tokoh masyarakat yang tahu tentang asal-usul Desa Tejakula, sebagai bukti sejarah serta pemberian nama Desa Tejakula, untuk dapat dipergunakan dimana mestinya. 
(Dikutif dari Buku Profil Pembangunan Desa)

Profile Desa Tejakula

VISI DAN MISI

VISI :
Menuju masyrakat sehat, cerdas dan sejahtera
MISI :
Mewujudkan  Desa  Tejakula  yang  sehat,  melalui  Pembangunan Sanitasi Lingkungan  dan  sarana  pelayanan  kesehatan berkaitan  dengan kebijakan Pemerintah Indonesia  di bidang kesehatan   yaitu  MENUJU  INDONESIA  SEHAT  2010 yaitu  meningkatkan kesadaran , kemauan  dan kemampuan  hidup  sehat  bagi setiap orang  agar  terwujud  derajat  kesehatan  yang optimal.
Mewujudkan  Desa  Tejakula  yang  Cerdas,  melalui  Pembangunan  sarana prasarana  Penunjang  Pendidikan  agar  tercipta  generasi  muda  yang  mampu  bersaing dalam  Peningkatan  Mutu Pendidikan dan  Keterampilan sehingga mampu   menciptakan lapangan kerja dan memiliki  budi  pekerti.
Mewujudkan  Desa  Tejakula  yang Sejahtera , melalui  pembangunan infrastuktur  dan  perbaikan pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian fungsi  lingkungan hidup ,  revitalisasi pertanian  dan pemberdayaan  kelompok – kelompok  usaha  produktif .

LUAS WILAYAH DESA
Luas Wilayah desa Tejakula :    1396 Ha.
Pemanfaatan Wilayah
Sawah dan Ladang  ; 106,05 Ha
Bangunan Umum : 9,69 Ha
Pemukiman / perumahan ; 97,90 Ha
Kuburan ; 3 Ha
Jalan : 21,02 Ha
Pertokoan / Perdagangan : 4,65 Ha
Pasar ; 0,30 Ha
Pekarangan : : 11,00 Ha
Tegalan : 382,45 Ha
Perkebunan : 40,0 Ha

BATAS-BATAS DESA
Letak Desa
Desa Tejakula adalah salah satu desa yang berada di Wilayah Kecamatan Tejakula, termasuk ibukota kecamatan yang terletak pada ketinggian 0 – 300 meter dari permukaan laut, dengan suhu udara rata-rata 280 C – 320 dan termasuk dataran rendah
Batas-batas desa
Sebelah Utara : Laut Bali
Sebelah Selatan : Kec. Kintamani Kab. Bangli
Sebelah Barat : Desa Bondalem
Sebelah Timur : Tukad Les desa Les

JARAK PEMERINTAHAN DESA KE
Ke Ibu Kota Kecamatan Tejakula  :     0 Km
Ke Ibu Kota Kabupaten Buleleng :   33 Km
Ke Ibu Kota Propinsi Bali          :  114 Km

JUMLAH DUSUN DAN NAMA-NAMA DUSUN
Desa Tejakula terdiri dari 10 dusun :
Banjar Dinas Suci
Banjar Dinas Kawanan
Banjar Dinas Tengah
Banjar Dinas Siladarma
Banjar Dinas Kajanan
Banjar Dinas Antapura
Banjar Dinas Tegalsumaga
Banjar Dinas Kanginan
Banjar Dinas Kelodan
Banjar Dinas Sukadarma

JUMLAH PENDUDUK
Jumlah penduduk desa Tejakula :
Laki-laki : 6.023 Jiwa
Perempuan : 6.098 Jiwa +
Jumlah : 12.121 Jiwa
Kepala Keluarga (KK) : 3.437 KK

MATA PENCAHARIAN PENDUDUK
Mata pencaharian penduduk desa Tejakula secara umum adalah Pertanian / Perkebuna, Buruh Tani , Peternakan dan Nelayan

 ORGANISASI SUBAK DAN TRUNA TRUNI
Lembaga Subak
Subak Sri Dharma Tirta  Banjar Dinas Siladarma
Subak Siungan Banjar Dinas Antapura
Subak Amerta Boga Banjar Dinas Suci
Subak Kebon Banjar Dinas Antapura
Subak Tirta Anugrah Banjar dinas Suci
Sekeha Truna Truni
STT. Teja Mekar
Karang Taruna Kumara Sentana Graha

SARANA PENDIDIKAN
TK Negeri Pembina
SD N 1 Tejakula
SD N 2 Tejakula
SD N 3 Tejakula
SD N 4 Tejakula
SD N 5 Tejakula
SD N 6 Tejakula
SD N 7 Tejakula
SD N 8 Tejakula
SMP N 1 Tejakula
SMP Udayana Tejakula
SMA N 1 Tejakula
SMA Udayana Tejakula

SARANA KESEHATAN
Puskesmas : Puskesmas I Tejakula
Posyandu
Posyandu Nusa Indah Banjar Dinas Suci
Posyandu Jambu Banjar Dinas Suci
Posyandu Jempiring Banjar Dinas Kawanan
Posyandu Angsoka Banjar Dinas Tengah
Posyandu Anggrek Banjar Dinas Siladarma
Posyandu Kamboja Banjar Dinas Kajanan
Posyanduu Mawar I Banjar Dinas Antapura
Posyandu Mawar II Banjar Dinas Antapura
Posyandu Kemuning Banjar Dinas Tegalsumaga
Posyandu Melati Banjar Dinas Kanginan
Posyandu Cempaka I Banjar Dinas Kelodan
Posyandu Cempaka II Banjar Dinas Kelodan
Posyandu Dahlia I Banjar Dinas Sukadarma
Posyandu Dahlia II Banjar Dinas Sukadarma

POTENSI DESA YANG DIKEMBANGKAN
Pariwisata Bahari (Camplung)
Home Industri pembuatan Jaja Gina, Dodol, Pembuatan minyak Kelapa
Kerajinan tangan ingka, Emas dan Perak

 SARANA DAN PRASARANA MEDIA INFORMASI
Jumlah sarana computer pada kantor Desa : 4 unit (Pentium III, IV)
Jumlah Penduduk yang mempunyai TV dan Radio : 2.405 Orang
Jumlah Penduduk yang berlangganan Koran : 40 Orang
Jumlah penduduk yang mempunyai : telepon / HP : 30 telepon, 3060 Hp
Jumlah penduduk yang mempunyai computer : 214 orang
(data per tahun 2011)

(sumber :  https://aamztronx.wordpress.com/desa-tejakula/)






NAMA PURA BESERTA HARI PIODALANNYA DI DESA PAKRAMAN TEJAKULA

  • Pura Kahyangan Tiga dan Pura Dang Kahyangan :
  1. Pura Puseh : Dangsil setiap Purnama Kelima (10 tahun sekali tepatnya setiap angka tahun Masehi ber-angka 8. Jadi Dangsil yang akan datang jatuh pada Purnama Kelima tahun 2018), Ngenemang setiap Purnama Kenem (5 tahun sekali)
  2. Pura Desa : Dangsil setiap Purnama Kelima (10 tahun sekali, dilaksanakan setelah Upacara Dangsil di Pura Puseh), Ngenemang setiap Purnama kenem (5 tahun sekali), setiap tahun nuju Purnama Kedasa Melasti ke Pura Ponjok Batu, setiap Panglong Sasih Kedasa (ngebekin Banyu Cokor) – Pura Batur, setiap panglong Sasih Kalima (ngebekin Banyu Cokor) – Sukawana.
  3. Pura Dalem : Dangsil setiap Purnama Kelima setelah Upacara Dangsil di Pura Dangin Carik, Ngenemang setiap Purnama Kenam.
  4. Pura Dangin Carik : Dangsil setiap Purnama Kalima (10 tahun sekali setelah Upcara Dangsil di Pura Desa), Ngenemang setiap Purnama Kenem (10 tahun sekali)
  5. Pura Segara : Ngenemang setiap Purnama Kenem (10 tahun sekali) setelah di Pura Desa, Ngodalin Alit setiap Anggara Kasih bulan Oktober.
  6. Pura Beji : Labuh Gentuh setiap Purnama Kelima (10 tahun sekali) setelah Dangsil di Pura Dalem
  7. Pura Ratu Gede Sambangan : Anggara Kasih Perangbakat
  8. Pura Maksan : Buda Kliwon Dungulan (Galungan)
  9. Pura Jati : Saniscara Klwon Kuningan (Tumpek Kuningan)
  10. Pura Pingit : Buda Klowon Pahang
  11. Pura Sekar : Anggara Kasih Perangbakat nuju Purnama Sasih Kapat, Sasih Kalima, Sasih Kenam, Sasih Kedasa (setanggal-tanggal).
  12. Pura Suci : Anggara Kasih Julungwangi nuju Purnama Sasih Kapat
  13. Pura Betel Tinggal : Anggara Kasih Tambir
  14. Pura Tegal Mas : Anggara Kasih Julungwangi
  15. Pura Ratu Bagus : Tumpek Lulut
  16. Pura Koang : Anggara Kasih Medangsia
  17. Pura Kutuhmanak : Saniscara Kliwon Kuningan
  • Pecaruan di Desa Tejakula :
  1. Tilem Kenem : Caru Nangluk Merana di Pura Desa (Meru Medulu Klod)
  2. Tilem Kapitu : Caru Sasih di Pura Desa
  3. Tilem Kawulu : Caru Sasih di Pura Dalem
  4. Tilem Kesanga : Caru Sepen di Pura Desa
  • Dangsil
Upacara Dangsil yang dilksanakan setiap Purnama Kalima, dimulai dari Pura Puseh, Pura Desa, Pura Dangin Carik dan Pura Dalem ditutup dengan Labuh Gentuh di Pura Beji. Rangkaian Upacara ini dari mulainya di Pura Puseh sampai dengan Labuh Gentuh di Pura Beji berlangsung sekitar 10 tahun. Selain itu ada pula Upacara Ngenemang yang dilaksanakan setiap Purnama Kenem (5 tahun sekali) kecuali di Pura Dangin Carik Upcara Ngenemang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali.

  • Pura Lain yang memiliki hubungan Historis dengan Desa Tejakula :
  1. Pura Utus (Sukawana – Bangli)) : Purnama Ketiga
  2. Pura Puncak Penulisan (Penulisan – Bangli) : Purnama Kapat (setiap 10 tahun sekali Desa Tejakula ngaturang atos)
  3. Pura Desa Sukawana (Sukawana – Bangli) : Purnama Kalima.
sumber :
Desa Pakraman Tejakula
(sumber :  https://aamztronx.wordpress.com/desa-tejakula/nama-pura-beserta-hari-piodalannya-di-desa-pakraman-tejakula/)



Kebudayaan Desa Tejakula


 Wayang Wong Desa Tejakula
Keberadaan Kesenian Wayang Wong Desa Tejakula



Sebagai seni pertunjukkan yang telanjur dianggap klasik, tradisional, magis dan sakral, wayang wong seakan-akan tak bisa dimodifikasi menjadi seni modern yang lebih cair dan menghibur. Padahal, dalam sejarah perkembangan seni pertunjukan di Bali, banyak seni tradisi yang hampir-hampir mati bisa bangkit kembali ketika dikonsep dengan menggunakan pola pikir lebih sekuler dan menggunakan peralatan modern. Salah satu contoh bisa disebut wayang kulit Cenk Blonk yang menggunakan alat pencahayaan modern dan pola pembabakan cerita yang lebih dinamis.
      Kelompok wayang wong dari Desa Tejakula yang memainkan cerita "Kumbakarna Karebut" dalam ajang Festival Topeng Internasional di panggung terbuka Pelabuhan Buleleng, Kamis (1/12) malam, sesungguhnya berada di tengah suasana modern. Tata panggung, tata pencahayaan dan tata suara yang meskipun diatur dengan agak amburadul namun sudah cukup memberi kesan bahwa pertunjukkan itu berada di ruang modern, bukan ruang magis apalagi sakral. Event festival yang digelar International Mask Art and Culture Organization (IMACO) adalah event modern yang dirancang orang-orang berpikiran modern. Penonton yang berjubel di areal Pelabuhan Buleleng itu pun sepertinya mempersiapkan diri untuk menonton sebuah seni pertunjukan yang setidaknya bisa membuat hati mereka terhibur. Namun yang mereka dapatkan di atas panggung sepertinya sebuah tontonan yang canggung dan kikuk. 
    Sebagai seni klasik, para pemain wayang wong dari seniman-seniman alam di Tejakula itu sudah menunjukkan permainan yang bisa disebut sempurna. Terutama pemain yang memerankan tokoh-tokoh dari pasukan kera. Gerak yang mereka tampilkan adalah gerakan khas wayang wong yang tercipta dari konsep-konsep seniman alam masa lalu. Karakter-karakter penokohannya juga termasuk kuat justru karena pemainnya tidak mencoba untuk menonjolkan gerak tari yang berlebihan.
       Namun seluruh rangkaian pertunjukan sepertinya terpaku dalam ruang masa lalu, terkesan statis dan berat. Tanpa ada upaya untuk menarik sedikit atau beberapa bagian saja ke ruang yang lebih kontekstual. Punakawan semacam Delem, Sangut, Tualen dan Merdah, meski tetap harus mempertahankan karakter kepunakawanannya, namun sesungguhnya bisa dimainkan secara lebih terbuka bahkan bisa saja sesekali terlepas dari alur cerita. Tokoh lain, seperti Anoman dan sejumlah raksasa anak buah Rahwana juga bisa diberi peran lebih bebas untuk mengangkat nuansa pertunjukan ke wilayah yang lebih akrab dengan penonton.
        Upaya itu memang tidak mudah di tengah masalah klasik sulitnya menumbuhkan tunas generasi seniman wayang wong di Tejakula. Tokoh punakawan semacam Merdah yang sudah saatnya dimainkan oleh penari muda yang energik dan penuh daya improvisasi, kini justru masih dimainkan seniman sepuh yang usianya di atas 60 tahun. Sehingga Merdah tak bisa lagi mengeluarkan suara melengking dengan celetukan yang menggigit.
       Sesepuh wayang wong Tejakula Ketut Mulia, mengakui betapa sulitnya mendapatkan generasi baru untuk meneruskan sekaligus menghidupkan seni klasik tersebut di Tejakula. Generasi seakan takut untuk belajar menari wayang wong. Mereka mungkin bisa dengan mudah belajar menari, namun tak mudah untuk belajar sastra dan bahasa Kawi. Pasalnya, dialog dalam wayang wong Tejakula semuanya disuarakan secara langsung oleh pemainnya tanpa menggunakan dalang. Dalang hanya bernyanyi saat mengantar cerita di bagian awal atau sesekali mengeluarkan sesendon di tengah cerita. Artinya, dengan begitu, setidaknya setiap pemain wayang wong menguasai ilmu mendalang. Dan, itulah yang membuat wayang wong menjadi seni pertunjukan yang agung, komplit, dan lengkap, apalagi bisa dimainkan dengan sempurna.
    Tapi, tanpa regenerasi, keagungan wayang wong tentu saja tak bisa dipertahankan. Cara mempertahankan adalah membuat generasi tertarik untuk main wayang wong. Untuk membuat generasi tertarik tentu wayang wong lebih bisa dicairkan agar bisa masuk ke dunia generasi muda yang berada pada wilayah modern. Sastra adalah satu kekuatan dalam wayang wong, juga sebagian besar seni klasik lain. Tapi, jika generasi sulit belajar sastra, maka sastra bisa saja diturunkan kadarnya dalam pengadegan tokoh-tokoh tertentu. Sastra tak harus dilapalkan dalam Bahasa Kawi tapi bisa dicairkan ke dalam bahasa percakapan sehari-hari. Percayalah, bahasa yang biasa-biasa saja jika bahasa itu diberi rasa dan nyawa, bahasa biasa itu juga bisa memancarkan sihir pada penonton. Bukankah pada awalnya Bahasa Kawi juga bahasa biasa?
        Jika wayang wong ditampilkan lebih cair dan lebih sekuler, tentu saja ia masih bisa dianggap wayang wong. Soal apakah ia masih bisa dianggap sebagai seni klasik dan sakral, itu bisa dipertanyakan kemudian. Di Tejakula, warga pendukung wayang wong sebenarnya sejak dulu sudah punya upaya sadar dalam membedakan ruang sakral dan bukan sakral. Ini dibuktikan dengan dibuatkannya topeng duplikat dari wayang wong yang disungsung di pura desa. Topeng wayang duplikat inilah yang dimainkan di ruang-ruang yang lebih sukuler. Bahkan dalam pementasan di tempat-tempat tertentu, kelompok ini biasa memotong sejumlah adegan dan mengurangi jumlah pemain karena masalah waktu. Artinya, sejak awal sudah diciptakan ruang untuk bermain dan ruang untuk khusyuk. Maka, dalam ruang bermainlah segala imajinasi, kreasi, improvisasi, bila perlu revolusi, bisa dimainkan.
 (sumber :  http://anggayudiastrawan.blogspot.co.id/2014/10/wayang-wong-desa-tejakula.html)
 
 
Sejarah Gong Kebyar Desa Tejakula 
 
1094750_10151785627967147_1598841468_o 
Sejarah Gong Kebyar Desa Tejakula
“Sabha Sawitra”
            Keberadaan gamelan Gong Kebyar di Tejakula, merupakan salah satu asset dari perkembangan Gong Kebyar yang tersebar luas di Bali. Salah satu bentuk medium seni tabuh, Gong Kebyar di Tejakula juga di manfaatkan selain sebagai sarana kebutuhan estetis secara musikal, juga sebagai sarana lainnya seperti untuk pengiring upacara atau ritual, sarana sosial, dan sarana ekonomi. dari fungsi yang ada sekaligus dimaknai sebagai medium estetis yang bernilai ritual, sosial, dan ekonomi.
Sejarah singkat keberadaan gamelan Gong Kebyar di Tejakula,menurut penuturan gamelan Gong Kebyar di desa Tejakula pada mulanya warga Dadia Pinatih Desa Tejakula memiliki seperangkat barungan gamelan Gong Kebyar gaya Bali utara. Seperangkat gamelan tersebut, dipinjamkan kepada desa Tejakula. Pada saat itu kebetulan pemimpin desa atau bapak kepala desanya dari warga pinatih yaitu Bapak I Ketut Arta. Sebelum bapak I Ketut Arta memimpin desa Tejakula, desa tersebut pernah juga dipimpin oleh warga Pinatih.
Perkembangan kesenian di desa Tejakula pada saat itu sangat maju khususnya kesenian Kebyar seperti ada beberapa tarian diantaranya tari Truna Jaya, Margapati, Panji Semirang, Tenun, Wiranata, Oleg Tamulilingan, Cendrawasih, dan tari Kupu-kupu. Adapun mengenai tabuh-tabuhan seperti : Hujan Mas, Bande Sura Kekebyaran, dan Tabuh Galang Kangin kekebyaran. Kesemuanya jenis kesenian tersebut dapat disajikan atau diiringi oleh barungan gamelan gong kebyar milik warga penatih yang dipinjamkan bapak kepala desa Tejakula.
Sebelum dan sesudah gerakan G30 S/PKI pada tahu 1965, seni-seni tersebut khususnya seni tari dan seni karawitan (tabuh) sering pentas mengisi acara permohonan internal desa dan eksternal desa. Internal desa mengisi permohonan masyarakat desa Tejakula dalam kegiatan upacara Panca Yadnya seperti : Dewa Yadnya, Manusa Yadnya, Bhuta Yadnya, Rsi Yadnya, dan Pitra Yadnya. Untuk ekternal mengisi acara di Istana Negara Tampak Siring dalam rangka kunjungan bapak presiden republik Indonesia pada saat itu bapak Soekarno adalah sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama. sebelum pentas di Tampak Siring (istana), pentas juga di Patal Tohpati, Balitek, Kapal-kapal besar di pelabuhan Buleleng, HUT Kota Singaraja dan dalam rangka 17 Agustus di alun-alun atas dan alun bawah di kota Singaraja.
Perkembangan seni selanjutnya di desa Tejakula, adanya rekaman dari Yama Sura dari Jepang untuk kepentingan kampus yang sudah barang tentu dikasi dana. Selanjutnya kesenian Gong Kebyar dan kesenian wayang wong pada tanggal 5 sampai dengan 13 September 1993, diajak mengikuti pementasan di Jepang Tokyo oleh Bapak Sardono pada tanggal 16 Mei 1995 dengan materi yang sama pergi ke negara Swedia yang diprakasai oleh bapak Sida Karya alias UlGad dari Swedia. Kepergian rombangan kesenian Tejakula ke negara tersebut dan termasuk rekaman yang dilakukan oleh Yama Sura dari Jepang memakai barungan gamelan gong kebyar tersebut. Para seniman yang mengikuti kegiatan kesenian tersebut tidak sepenuhnya mendapatkan honor (upah) karena akan ada rencana untuk membeli seperangkat barungan gamelan gong kebyar.
Atas dasar pertimbangan para seniman yang di prakarsai oleh Bapak Nyoman Tusan dan Pande Gede Mustika, sehingga sisa-sisa dana dari ke tiga kegiatan tersebut mencukupi untuk membeli seperangkat barungan gamelan gong kebyar. Gamelan Gong Kebyar yang ada sekarang itu dibeli dengan harga        Rp.15.000.000,00 (limas belas juta rupiah) di Pande gamelan Kubu Jati yaitu Bapak Gede Artha. semula gamelan tersebut tanpa diukir, selanjutnya diukir oleh masyarakat Tejakula dari keluarganya Putu Inten. Gamelan tersebut dibeli pada tahun 1996 Setelah memiliki gamelan baru, gamelan gong kebyar milik warga pinatih yang dipergunakan oleh desa dikembalikan,sehingga gamelan gong kebyar yang ada sekarang di desa administrasi Tejakula berkat jerih payah seniman.
Demikian sejarah singkat keberadaan barungan gamelan gong kebyar yang ada sekarang di Desa Tejakula,sehingga aktifitas seniman khususnya seniman kebyar berjalan sesuai dengan harapan.

Bentuk Fisik
            Bentuk fisik gamelan Gong Kebyar yang ada di desa Tejakula merupakan barungan gamelan yang terbuat dari kerawang dengan pelawah dari kayu disusun sedemikian rupa sehingga berbentuk sebuah instrument-instrumen yang kebanyakan berbentuk bilah. Unsur budaya Bali tercemin pada penggunaan instrument dari perangkat gamelan Bali dan busana yang digunakan oleh para penabuh (juru gamel). Budaya local tampak pada penggunaan aspek tradisi Bali seperti bentuk ukiran/ornament pada pelawahnya, menggunakan laras pelog, sesaji, dan para penabuhnya didominasi dengan memakai kostum penabuh tradisi budaya Bali.
Bentuk Instrumen
Gamelan Gong Kebyar di desa Tejakula sudah barang tentu mempunyai suatu kekhasan sendiri. Barungan gamelan Gong Kebyar Tejakula, bentuk instrumennya ada yang berbentuk bilah dan ada yang berbentuk pancon (moncol). Menurut Brata, instrument yang berbentuk bilah juga dapat dibagi menjadi dua yakni bilah yang berbentuk dengan istilah; metundun klipes, metundun sambuk, setengah penyalin, dan bulig.
Bentuk Repertoar
            Bentuk adalah susunan dari suatu bagian atau struktur yang merupakan suati sehingga membentuk atau mewujudkan suatu bentuk nyata. Bentuk repertoar ditentukan oleh jumlah bagian, struktur, dan permainan dari suatu instrument.Dalam repertoar gending-gending gong kebyar di desa Tejakula terdapat beberapa bentuk repertoar gending yaitu bentuk repertoar gending gilak (gegilakan), tabuh telu, tabuh pat, tabuh nem, dan tabuh-tabuh untuk iringan tari-tarian lepas. Masing-masing bentuk repertoar gending, merupakan rangkaian dari bagian-bagian gending yang masing-masing bentuk mempunyai urutan sajian bagaian gending yang berbeda-beda.
Adapun urutan dari bagian-bagian bentuk repertoar gending dari masing-masing bentuk repertoar adalah sebagai berikut :
1.  Bentuk repertoar gending gilak (gegilakan) terdiri dari bagian gending-gending  kawitan dan pengawak.
2.  Bentuk repertoar gending tabuh pisan terdiri dari bagian gending kawitan, pengawak, ngisep ngiwang, pengisep, dan pengecet.
3.  Bentuk repertoar gending tabuh telu, terdiri dari bagian gending kawitan dan pengawak.
4.  Bentuk repertoar gending tabuh pat, tabuh nem, dan tabuh kutus mempunyai bagian gending yang sama yaitu kawitan (pengawit), pengawak pengisep (pengaras), dan pengecet. Pada bagian gending pengecet terdapat sub-sub bagian gending yang urutan sajiannya adalah kawitan, pemalpal, ngembat terompong, pemalpal tabuh telu, pengawak tabuh telu. Alternatif yang lain dari susunan sajian sub bagian gending dalam pengecet adalah kawitan, pemalpal, ngembat trompong, dan gilak atau gegilakan.
5.  Gending-gending untuk iringan tari-tarian lepas pada umumnya dikomposisikan sedemikian rupa disesuaikan dengan bentuk tari yang diiring
(sumber :  https://aamztronx.wordpress.com/adat-budaya/sejarah-gong-kebyar-desa-tejakula/)



MAKANAN KHAS DESA TEJAKULA 



1. Dodol Khas Tejakula


Lokasi : Desa Tejakula, Buleleng, dan daerah lainnya (pasar tradisional).
Kisaran Harga : Rp8.000/ikat.
Derkripsi :
          Makanan yang satu ini (dodol) adalah salah satu jajanan tradisional Bali yang sebenarnya rasanya enak, tetapi keberadaannya kini sudah mulai jarang diminati, terutama di daerah perkotaan. Hal ini tidak lepas dari pengaruh masuknya berbagai jajanan "kota" yang notabene instant dan mudah didapat, sehingga secara mudah merubah pola konsumsi kita untuk beralih ke mereka (jajanan kota). Jika ditanya dimana, jajanan ini mudah ditemui di bali jika sudah tiba musim upacara agama, namun jika dalam keseharian memang sedikit diproduksi karena permintaannya tidak banyak, tetapi bukan berarti tidak ada lho, karena di pasar tradisional atau sekarang di supermarket dan minimarket sudah mulai tersedia.
          Salah satu produsen yang recomended yaitu desa Tejakula. Salah satu produsen disana yang pernah kami temui kami perhatikan mulai dari proses awal produksinya, dan memang terpercaya untuk jenis makanan seperti ini. Produksinya dilakukan secara berkala namun dengan tingkat kapasitas pruduksi yang disesuaikan dengan permintaan pasar, saat musim upacara agama tingkat produksinya ditambah, dan jika tidak pada musimnya maka produksinya dikurangi. Mengapa produksinya tidak dihentikan? Karena mereka selalu mendapat pesanan entah itu dari masyarakat lokal, atau bahkan dari luar negeri, seperti agen-agen penyalur oleh-oleh bali atau secara langsung dipesan oleh para turis yang sedang berkunjung. Ini membuktikan kualitas rasa makanan yang satu ini memang tidak kalah dari makanan-makanan instant yang tersedia di supermarket. Selain sehat, dengan rasanya yang gurih, manisnya alami, serta lembut dilidah membuat makanan ini patut untuk tetap kita konsumsi.
          Mari kita kembali ke pola konsumsi lama, kita cintai dan kita kembangkan makanan khas daerah kita, selain enak juga sehat bagi tubuh kita, turis aja suka, kita???

sumber gambar : http://balibulelengtourism.com 
(sumber :  http://bulelengkuliner.blogspot.co.id/2012/02/dodol-tejakula.html)


2. BLAYAG KHAS TEJAKULA

Nama makanan Blayag memang sudah terkenal di Buleleng dan hanya ada di wilayah Buleleng saja. Blayag merupakan makanan
(sumber gambar blayag : https://www.google.com/search?q=BLAYAG+KHAS+TEJAKULA&tbm=isch&tbo=u&source=univ&sa=X&ved=0ahUKEwj-lomWuZXWAhUHyrwKHV8MBsEQsAQIRg&biw=1280&bih=637#imgrc=HKFHYoT9Mcjv9M:)
Image result for BLAYAG KHAS TEJAKULA
tradisonal yang sangat murah. Meskipun murah makanan ini sangat enak dan nikmat karena disajikan dengan daun pisang.1 porsi bisa Anda dapatkan dengan harga 5000- 10.000 Rupiah. Untuk menikmati makanan ini, Anda cukup datang di seputaran kota Singaraja atau dekat-dekat pasar Buleleng. Namun saat ini sudah banyak yang menjual karena pimantnya cukup banyak. Makanan yang dibuat sederhana dengan bahan dan rempah alami tanpa msg. Secara kasat mata Blayag sama dengan tahu petis namun bumbunya yang berbeda. Blayag dibuat dari ketupat yang dipotong-potong kemudian diisi dengan bumbu rambanan. Setelah ditu diatasnya ditaburi saur atau parutan kelapa yang telah dimasak dan diisi kacang yang telah digoreng. Blayag juga dilengkapi dengan berbagai sayur. Agar lebih enak lagi penjual biasanya membuat ketupat dengan daun pisang dan bukan daun kelapa atau plastik. Agar menghasilkan aroma yang sedap, ketupat dimasak dengan kayu bakar.
(SUMBER :  https://www.jatayurental.com/blog/kuliner-asli-buleleng/)

3. BUBUH CINA KHAS TEJAKULA
Namanya bubur Cina, sangat unik ya. Yang namanya bubur sama saja dengan yang lainnya. Namun yang satu ini berbeda. Bubur dibuat dengan beras kemudian diisi campuran mie. Bubur ini kemudian diisi bumbu ambil dimasak. Bumbunya sederhana untuk menambah cita rasa bubur. Agar lebih nikmati bubur diisi dengan sayur. Sayur bisa diisi dengan kcang panjang dan kecambah yang direbus. Bumbu sayur diisi dengan bumbu kacang tanah. Sangat lengkap bila ditambah dengan krupuk. Wah pasti lezat sekali.
(SUMBER :  https://www.jatayurental.com/blog/kuliner-asli-buleleng/)
 
4. MENGGUH KEDONGKOL KHAS DESA TEJAKULA
Mengguh Kedongkol adalah salah satu makanan khas Tejakula sama dengan bubur Cina. Mengguh Kedongkol juga berupa bubur beras. Kalau Bubur Cina dilengkapi dengan mie, Mengguh Kedongkol dilengkapi dengan ubi jalar yang telah dipotong-potong kecil. Bumbunya sangat sederhana Cuma penyajiannya dilengkapi dengan sayur kacang panjang, kecambah dan kedongkol dlumuri bumbu kacang, daging ayam yang direbus dan bisa juga ditambah dengan bawang goreng dan krupuk.
(sumber:  https://www.jatayurental.com/blog/kuliner-asli-buleleng/)